Etika, Moral dan Akhlak

BAB I - PENDAHULUAN


Di zaman global saat ini , dimana sektor ekonomi, sosial dan budaya hampir tidak memiliki batas Negara atau kewilyahan, secara langsung maupun tidak langsung memiliki pengaruh terhadap perilaku seorang muslim. Saat ini ada kecenderungan dimana manusia mengikuti pola hidup konsumtif, mereka bahkan lupa dengan adanya etika, moral dan akhlak yang  tidak terlalu dihiraukan dan dijadikan pedoman dalam hidup. Kenyataan yang ada generasi sekarang kurang memahami tentang etika, moral dan akhlak yang tercermin dalam perilakunya dalam kehidupan.
 Selama ini pelajaran etika, moral, dan akhlak sudah diperkenalkan sejak kita berada di jenjang sekolah dasar, yaitu pada pelajaran Agama Islam dan Kewarganegaraan. Namun ternyata pelajaran etika, moral dan akhlak itu hanya dibiarkan saja tanpa di aplikasikan ke dalam perilaku kehidupan sehari-hari, sehingga pelajaran yang telah disampaikan tidak tercermin dalam perilaku kehidupan sehari-hari.
Sebagai generasi penerus Indonesia, tentunya perilaku kita berdasar etika,moral dan akhlak harus semakin baik. Semoga penulisan makalah ini bisa membantu meningkatkan kualitas etika, moral dan akhlak masyarakat.









BAB II – PERMASALAHAN

 

Berpijak dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang penulis temukan adalah sebagai berikut:
1. Pentingnya Akhlak
2. Konsep Etika, Moral dan Akhlak
3. Hubungan Tasawuf dengan Akhlak
4. Indikator Manusia ber-Akhlak














BAB III - PEMBAHASAN


3.1. Pentingnya Akhlak


Sejarah menunjukkan bahwa suatu bangsa akan kokoh apabila akhlaknya kokoh dan sebaliknya akan runtuh apabila akhlaknya rusak. Oleh karena itu, tujuan pendidikan akhlak harus diarahkan pada terbentuknya manusia yang berakhlak mulia (al-akhlaq al-karimah).
Beberapa anggapan yang ada di masyarakat bahwa keberhasilan lembaga pendidikan dalam mendidik anak didiknya dilihat dari kuantitas lulusan , serta berorientasi hanya pada beberapa aspek kecerdasan. Ironisnya hal ini diakui oleh mayoritas masyarakat Indonesia , padahal belum tentu semua anak didik yang memiliki nilai baik dari segi akademik juga memiliki memiliki nilai baik dari segi afektif (akhlak). Pendidikan akhlak harus ditekankan kepada anak didik sedini mungkin untuk dimanifestasikan dalam kehidupan.
Berakhlak yang baik harus dilakukan secara vertikal (kepada Allah) dan secara horizontal (kepada makhluk-Nya), kare na dalam bahasa Arab, kata akhlaq itu mengandung segi-segi persamaan dengan kata khaliq (Yang Menciptakan) dan makhluq (yang diciptakan).
Dengan demikian, diharapkan manusia itu berakhlak, baik terhadap Tuhan (Khaliq) maupun terhadap sesama manusia dan alam sekitarnya (makhluq). Berakhlak baik terhadap Tuhan dengan cara melaksanakan ibadah yang biasa dilakukan oleh setiap umat beragama sesuai dengan agamanya masing-masing. Sedangkan berakhlak baik terhadap makhluk sangat luas cakupannya. Tidak hanya menjaga dan berakhlak baik terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap binatang dan tumbuhan serta alam sekitarnya.
Nilai dari pendidikan akhlak ada lah akhlak itu sendiri karena akhlak merupakan salah satu dimensi manusia yang sangat diutamakan dalam pendidikan Islam. Untuk itu, pendidikan akhlak dalam pengertian Islam adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan  agama.  Sebab  yang  baik adalah yang dianggap baik oleh agama dan yang buruk adalah apa yang di anggap buruk oleh agama. Oleh karena itu, nilai nilai akhlak dan keutamaan akhlak dalam masyarakat Islam adalah akhlak dan keutamaan yang diajarkan oleh agama.
Aspek – aspek ajaran Islam, baik aqidah, ibadah mu’amalah bagi setiap muslim ketiganya merupakan aspek – aspek yang bersifat taklifi (kewajiban) yang harus dilaksanakan. Sejarah membuktikan bahwa semua aspek ajaran tersebut tidak dapat terlaksana tanpa adanya akhlak yang baik.  Dari sini dapat dipahami bahwa akhlak merupakan pilar yang sangat penting dalam Islam. Akhlak yang mulia adalah pertanda kematangan iman serta merupakan kunci kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.
Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir diutus oleh Allah untuk mengemban misi penyempurnaan akhlak manusia yang telah runtuh sejak zaman para nabi yang terdahulu. Sebagaimana Rasul  bersabda :
  ٳنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلاَقِ
Artinya : “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.”  (HR. Ahmad dan Baihaqi)
Dengan demikian, seorang Muslim tidak sempurna agamanya bila akhlaknya tidak baik. Para filosof pendidikan Islam sepakat bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam, sebab salah satu tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah pembinaan al-akhlaq al-karimah.

3.2. Konsep Etika, Moral dan Akhlak

Secara substansial etika, moral, dan akhlak memang sama, yakni ajaran tentang kebaikan dan keburukan, menyangkut perikehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia dan alam dalam arti luas. Yang membedakan satu dengan yang lainnya adalah ukuran kebaikan dan keburukan itu sendiri.


3.2.1. Pengertian Etika

Etika berasal dari bahasa Yunani Kuno, yang terdiri dari kata  “ethikos“, berarti “timbul dari kebiasaan” adalah segala sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.
Dengan demikian Etika adalah ajaran yang berbicara tentang baik dan buruk dan yang menjadi ukuran baik dan buruknya adalah akal karena memang etika adalah bagian dari filsafat. 
Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Sebagaimana firman Allah SWT :
وَإِنَّك لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ  َ 
Artinya : “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” ( QS. Al Qalam(68): 4)

3.2.2. Pengertian Moral

Kata Moral berasal dari Bahasa Latin Moralitas, adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu, tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang memiliki nilai implisit karena banyak orang yang memiliki moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus memiliki moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya.
Moral adalah ajaran baik dan buruk yang ukurannya adalah tradisi yang berlaku di suatu masyarakat. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan agama. Setiap budaya memiliki standar moral yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah terbangun sejak lama.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa moral merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk.

3.2.3. Pengertian Akhlak

Akhlak berasal dari bahasa Arab “akhlaq” yang merupakan bentuk jamak dari “khuluq”. Secara bahasa “akhlak” mempunyai arti budi pekerti , tabiat, dan watak. Dalam kebahasaan akhlak berarti budi pekerti, perangai atau disebut juga sikap hidup adalah ajaran yang berbicara tentang baik dan buruk yang yang ukurannya adalah Wahyu Tuhan.
Sebagaimana kutipan hadits berikut ini :
· Rasulullah telah ditanya oleh seseorang: “Siapakah orang mukmin yang paling afdhal mempunyai kelebihan imannya? Jawab Rasulullah: Orang yang paling baik akhlaknya”.
· “Apakah ad-din itu Rasulullah? Ad-din itu ialah akhlak yang baik”.

3.3. Hubungan Tasawuf dengan Akhlak

Tasawuf adalah proses pendekatan diri kepada Tuhan (Allah) dengan cara menyucikan hati. Hati yang suci bukan hanya bisa dekat dengan Tuhan malah dapat melihat Tuhan (al-Ma’rifah). Dalam tasawuf disebutkan bahwa Tuhan Yang Maha Suci tidak dapat didekati kecuali oleh hati yang suci.
Kalau ilmu akhlak menjelaskan mana nilai yang baik dan mana yang buruk juga bagaimana mengubah akhlak buruk agar menjadi baik secara zahiriah yakni dengan cara-cara yang nampak seperti keilmuan, keteladanan, pembiasaan, dan lain-lain maka ilmu tasawuf menerangkan bagaimana cara menyucikan hati , agar setelah hatinya suci yang muncul dari perilakunya adalah akhlak al-karimah. Perbaikan akhlak, menurut ilmu tasawuf, harus berawal dari penyucian hati.  Menurut pendapat para sufi mengenai cara menyucikan diri ,   seperti berikut :
1. Ijtinab al-Manhiyyat, yaitu menjauhi larangan-larangan dari Allah SWT
2. Adaa al-Wajibat, yaitu melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap Allah SWT
3. Adaa al-Naafilat, yaitu melakukan hal-hal yang di-sunnah-kan
4. Ar-riyadhah, yaitu latihan spiritual yang diajarkan oleh Rasulullah SAW
Dalam kacamata akhlak, tidaklah cukup iman seseorang hanya dalam bentuk pengakuan, apalagi kalau hanya dalam bentuk pengetahuan. Yang “kaffah” adalah iman, ilmu dan amal. Amal itulah yang dimaksud akhlak . Tujuan yang hendak dicapai dengan ilmu akhlak adalah kesejahteraan hidup manusia di dunia dan kebahagian hidup di akhirat.
Dari satu segi akhlak adalah buah dari tasawuf (proses pendekatan diri kepada Tuhan), dan istiqamah dalam hati pun bagian dari bahasan ilmu tasawuf.

3.4. Indikator Manusia ber-Akhlak

Dalam ilmu akhlak dijelaskan bahwa kebiasaan yang baik harus dipertahankan dan disempurnakan, serta kebiasaan yang buruk harus di hilangkan , karena kebiasaan merupakan faktor yang sangat penting dalam membentuk karakter manusia berakhlak.
Aktualisasi akhlak adalah bagaimana seseorang dapat mengimplementasikan iman yang dimilikinya dan mengaplikasikan seluruh ajaran Islam dalam setiap tingkah laku sehari-hari. Dan akhlak seharusnya diaktualisasikan dalam kehidupan seorang muslim seperti di bawah ini :
1. Akhlak terhadap Allah
· Mentauhidkan Allah (QS. Al-Ihlas: 1-4)
· Tidak berbuat musyrik pada Allah (QS. Luqman: 13)
· Bertaqwa pada allah (QS. An Nisa’: 1)
· Banyak berdzikir pada Allah (QS. Al-Ahzab: 41-44)
· Bertawakkal hanya pada Allah (QS. Ali Imron: 159)
2. Akhlak terhadap diri sendiri
· Sikap sabar (QS. Al Baqarah: 153)
· Sikap syukur (QS. Ibrahim: 7)
· Sikap amanah atau jujur (QS. Al Ahzab: 72)
· Sikap tawadlu’ (rendah hati) (QS. Luqman: 18)
· Cepat bertobat jika berbuat khilaf (QS. Ali Imron: 135)
3. Akhlak terhadap sesama manusia
· Merajut ukhuwah atau persaudaraan (QS. Al Hujurat: 10)
· Ta’awun atau saling tolong menolong (QS. Al Maidah: 2)
· Suka memaafkan kesalahan orang lain (QS. Ali Imron: 134 & 159)
· Menepati janji (QS. At Taubah: 111).

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa mencapai akhlak yang baik ada tiga cara :
1. Akhlak merupakan anugrah dan rahmat Allah SWT, yakni orang, memiliki akhlak baik secara alamiah.
2. Mujahadah, selalu berusaha keras untuk merubah diri menjadi baik dan tetap dalam kebaikan, serta menahan diri dari sikap putus asa.
3. Riyadloh, ialah    melatih diri secara spritual untuk   senantiasa dzikir (ingat) kepada Allah    (dawam al-dzikir).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV - PENUTUP



4.1. Kesimpulan


Etika adalah ajaran yang berbicara tentang baik dan buruk dan yang menjadi ukuran baik dan buruknya adalah akal karena memang etika adalah bagian dari filsafat. Dan Moral adalah ajaran baik dan buruk yang ukurannya adalah tradisi yang berlaku di suatu masyarakat. Serta, Akhlak dalam kebahasaan berarti budi pekerti, perangai atau disebut juga sikap hidup adalah ajaran yang berbicara tentang baik dan buruk yang yang ukurannya adalah wahyu tuhan
Dari satu segi akhlak adalah buah dari tasawuf (proses pendekatan diri kepada Tuhan), dan istiqamah dalam hati pun bagian dari bahasan ilmu tasawuf.
Indikator manusia berakhlak (husn al-khulug) adalah tertanamnya iman dalam hati dan teraplikasikannya takwa dalam perilaku.
Aktualisasi akhlak adalah bagaimana seseorang dapat mengimplementasikan iman yang dimilikinya dan mengaplikasikan seluruh ajaran Islam dalam setiap tingkah laku sehari- hari. Seperti akhlak kepada Tuhan, diri sendiri, dan sesama manusia.
Kesempurnaan manusia, menurut Ibnu Maskawih terletak pada dua pokok, pertama, potensi berpengetahuan yang dengannya dia aktualkan sehingga dapat meraih aneka ilmu dan ma’rifah. Sedang yang kedua, potensi ‘amaliah yang tercermin kesempurnaannya pada pengaturan yang baik menyangkut tata cara pribadi dan masyarakat.




DAFTAR PUSTAKA



Ikhwanuddin. (2012, 21 Januari) . Konsep Akhlak Perspektif Al-Ghazali. Diperoleh November 2018, dari http://www.oaseimani.com/konsep-akhlak-perspektif-al-ghazali.html

Tiara Sinta. (2013, 13 Oktober) . Urgensi Akhlak dalam Kehidupan sehari-hari. Diperoleh November 2018, dari http://sukasukatiaraa.blogspot.com/2013/10/urgensi-akhlak-dalam-kehidupan-sehari.html

M Imam Pamungkas. (2018, 20 Februari) . Urgensi Pendidikan Akhlak untuk Zaman Now. Diperoleh November 2018, dari https://www.unisba.ac.id/index.php/en/printing/item/550-urgensi-pendidikan-akhlak-untuk-zaman-now

Nurdin Fivers. (2014, 21 Februari) . Etika, Moral dan Akhlak. Diperoleh November 2018, dari http://nurdinfivers1.blogspot.com/2014/02/makalah-agama-tentang-etika-moral-dan.html

Alwi Syech Assegaf . (2015, 26 Desember) . Akhlak. Diperoleh November 2018, dari https://calory72.wordpress.com/2015/12/26/akhlak/

No comments:

Post a Comment

Tugas VClass Softskill Pertemuan 3