BAB I – PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Dua
hal yang tidak bisa dipisahkan adalah masyarakat sebagai manusia dan kebudayaan.
Salah satu dari hasil karya manusia adalah kebudayaan.
Menurut
Koentjaranigrat (2009: 14), kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan,
tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan bermasyaakat yang dijadikan
milik diri manusia dengan belajar. Dan disebutkan ada 7 unsur kebudayaan pada
semua bangsa di dunia yaitu bahasa , sistem pengetahuan, organisasi sosial ,
sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem
Suku
Jawa sebagai salah satu dari ribuan suku bangsa masyarakat Indonesia, juga tidak lepas dari proses perubahan kebudayaan
yang di maksud di atas . Bentuk dari hasil kebudayaan masyarakat Jawa tidaklah
sama di seluruh wilayah komunitas masyarakat Jawa.
Suku
Jawa tidak dinisbatkan kepada seluruh penduduk pribumi penghuni pulau Jawa. Di
pulau Jawa sendiri terdapat beberapa suku bangsa lain selain suku Jawa. Sebutan
bagi suku Jawa lebih identik bagi masyarakat yang memegang teguh filosofis atau
pandangan hidup Kejawen. Kebudayaan suku Jawa merupakan hasil dari peninggalan
sejarah kerajaan besar Jawa khususnya Majapahit dan Mataram Baru.
Filosofis
hidup suku Jawa yang paling dasar sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu,
Budha dan juga kepercayaan animisme-dinamisme. Orang jawa pada umumnya sangat
menjunjung tinggi keseimbangan, keserasian dan keselarasan hidup baik terhadap
sesama manusia maupun dengan lingkungan alam. Dalam etika keseharian sangat
mengedepankan norma kesopanan, kesantunan dan kesederhanaan.
Salah
satu identitas kebudayaan Jawa adalah Wayang Kulit. Bagi suku Jawa, cerita
pewayangan selalu menggambarkan bentuk kehidupan manusia di dunia, yakni
peperangan terhadap angkara murka dan perjuangan untuk membangun kebaikan. Hal
itu sesuai dengan prinsip filosofis hidup yang selalu dipegang teguh oleh orang
Jawa.
Melihat
pentingnya Wayang Kulit yang sesuai dengan filosofi hidup masyarakat Jawa dalam
kebudayaan maka akan dibahas lebih lanjut mengenai peranan Wayang Kulit dalam Manusia
dan Kebudayaan.
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasar uraian latar
belakang di atas dapat diuraikan rumusan masalah seperti berikut :
1.
Pengertian
budaya Jawa
2.
Karakteristik
budaya Jawa
3.
Wayang Kulit dan
perkembangannya
1.3
Tujuan
Penulisan
Tujuan penulisan ini
dimaksudkan sebagai alternative rujukan dalam mengenal budaya Jawa beserta
karakteristiknya dalam kehidupan bermasyarakat , berbangsa dalam konteks Negara
kesatuan Republik Indonesia.
1.4
Manfaat
Penulisan
Beberapa manfaat dari
penulisan makalah ini, seperti berikut :
· Bisa
dijadikan alternatif rujukan dalam mengenal budaya Jawa beserta
karakteristiknya.
· Menambah
wawasan dan kemampuan berpikir mengenai budaya Jawa dalam kehidupan
bermasyarakat.
· Bisa
dijadikan dasar analisa sebuah masalah yang bersinggungan dengan budaya Jawa
BAB II -
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
Budaya Jawa
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata budaya memiliki arti sesuatu yang sudah
menjadi kebiasaan yang sukar untuk diubah.
Kebudayaan cenderung menjadi
tradisi dalam suatu masyarakat, dan tradisi itu ialah sesuatu yang sulit
berubah, karena sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat pendukungnya.
Masyarakat
Jawa merupakan salah satu masyarakat yang hidup dan berkembang mulai zaman
dahulu hingga sekarang yang secara turun temurun menggunakan bahasa Jawa dalam
berbagai ragam dialeknya dan mendiami sebagian besar Pulau Jawa (Herusatoto,
1987:10). DI Jawa sendiri selain berkembang masyarakat Jawa juga berkembang
masyarakat Sunda, Madura dan masyarakat-masyarakat lainnya. Pada
perkembangannya masyarakat Jawa tidak hanya mendiami Pulau Jawa, tetapi
kemudian menyebar di hampir seluruh penjuru nusantara. Komunitas Jawa juga
banyak ditemukan diluar Pulau Jawa akibat adanya program transmigrasi yang
dahulu pernah dicanangkan dan diimplementasi oleh pemerintah.
Pengertian
Jawa menurut geologi ialah bagian dari suatu formasi geologi tua berupa deretan
pegunungan yang menyambung dengan deretan pegunungan Himalaya dan pegunungan di
Asia Tenggara, dari mana arahnya menikung ke arah tenggara kemudian ke arah
timur melalui tepitepi dataran sunda yang merupakan landasan kepulauan
Indonesia.
Secara antropologi
budaya Jawa adalah orang-orang yang hidup dalam kesehariannya menggunakan
bahasa Jawa dengan berbagai ragam dialeknya secara turun-temurun. Pengucapan
bahasa daerah ini perlu diperhatikan dan membeda-bedakan orang yang diajak
berbicara atau yang sedang dibicarakan. Berdasar kriteria tingkatannya ada
bahasa Jawa ngoko yang digunakan untuk orang sudah dikenal akrab dan orang yang
lebih muda usianya atau lebih rendah status sosialnya, yang kedua adalah bahasa
Jawa karma dipergunakan untuk orang yang belum dikenal akrab juga terhadap
orang yang sebaya dan orang yang lebih tinggi status sosialnya.
Masyarakat
Jawa adalah mereka yang bertempat tinggal di daerah Jawa bagian tengah dan
timur, serta mereka yang berasal dari kedua daerah tersebut. Secara geografis,
suku bangsa Jawa mendiami tanah Jawa yang meliputi wilayah Banyumas,
Kedu,Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang, dan Kediri, sedangkan diluar
wilayah tersebut dinamakan pesisir dan ujung timur. Surakarta dan Yogyakarta
yang merupakan dua bekas kerajaan Mataram pada sekitar abad XVI adalah pusat
dari kebudayaan Jawa. Jadi dari uraian di atas, dapat kita ambil pemahaman
bahwa budaya Jawa yang dimaksud di sini adalah segala sistem norma dan nilai
yang meliputi sistem religi, sistem pengetahuan, bahasa,kesenian, kepercayaan,
moral, seni, hukum, adat, sistem organisasi masyarakat, mata pencaharian, serta
kebiasaan masyarakat Jawa yang hidup di pulau Jawa atau yang berasal dari pulau
Jawa itu sendiri.
2.2
Karakteristik
Budaya Jawa
Suku
Jawa diidentikkan dengan berbagai sikap sopan, segan, menyembunyikan perasaan
alias tidak suka langsung-langsung, menjaga etika berbicara baik secara isi dan
bahasa maupun orang yang diajak berbicara. Dalam keseharian sifat Andap Asor terhadap yang lebih tua akan
lebih di utamakan, Bahasa Jawa adalah bahasa berstrata, memiliki berbagai
tingkatan yang disesuaikan dengan orang yang diajak bicara.
Suku Jawa umumnya
mereka lebih suka menyembunyikan perasaan. Menampik tawaran dengan halus demi
sebuah etika dan sopan santun sikap yang dijaga. Misalnya saat bertamu dan
disuguhi hidangan. Karakter khas seorang yang bersuku Jawa adalah menunggu
dipersilahkan untuk mencicipi, bahkan terkadang sikap sungkan mampu melawan
kehendak atau keinginan hati.
Berbeda dengan bahasa
yang digunakan untuk rekan sebaya maupun yang usianya di bawah. Demikian juga
dengan sikap, orang yang lebih muda hendaknya betul-betul mampu menjaga sikap
etika yang baik terhadap orang yang usianya lebih tua dari dirinya, dalam
bahasa jawa Ngajeni
Ciri khas Narimo ing pandum adalah salah satu
konsep hidup yang dianut oleh Orang Jawa. Pola ini menggambarkan sikap hidup
yang serba pasrah dengan segala keputusan yang ditentukan oleh Tuhan. Orang
Jawa memang menyakini bahwa kehidupan ini ada yang mengatur dan tidak dapat
ditentang begitu saja.
Setiap hal yang terjadi
dalam kehidupan ini adalah sesuai dengan kehendak sang pengatur hidup. Kita
tidak dapat mengelak, apalagi melawan semua itu. Inilah yang dikatakan sebagai
nasib kehidupan. Dan, nasib kehidupan
adalah rahasia Tuhan, kita sebagai makhluk hidup tidak dapat mengelak. Orang
Jawa memahami betul kondisi tersebut sehingga mereka yakin bahwa Tuhan telah
mengatur segalanya.
Pola kehidupan orang
jawa memang unik. Jika kita mencoba untuk menelusuri pola hidup orang Jawa,
maka ada banyak nilai positif yang kita dapatkan. Bagi orang jawa, Tuhan telah
mengatur jatah penghidupan bagi semua makhluk hidupnya, termasuk manusia.
Setiap hari kita melihat banyak orang yang keluar rumah, seperti juga, banyak
burung yang keluar sarang untuk mencari penghidupan. Pagi mereka keluar rumah
dan sore pulang dengan kondisi yang lebih baik.
Konsep hidup nerimo ing
pandum ( ora ngoyo ) selanjutnya mengisyaratkan bahwa orang Jawa hidup tidak
terlalu berambisi. Jalani saja segala yang harus di jalani. Tidak perlu terlalu
ambisi untuk melakukan sesuatu yang nyata-nyata tidak dapat di lakukan. Orang
Jawa tidak menyarankan hal tersebut.
Hidup sudah mengalir
sesuai dengan koridornya. Kita boleh saja mempercepat laju aliran tersebut,
tetapi laju tersebut jangan terlalu drastis. Perubahan tersebut hanya sebuah
improvisasi kita atas kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Orang Jawa
mengatakan dengan istilah jangan ngoyo. Biarkan hidup membawamu sesuai dengan
alirannya. Jangan membawa hidup dengan tenagamu!
Bagi orang Jawa hidup
dan kehidupan itu sama dengan kendaraan. Dia akan membawa kita pada tujuan yang
pasti. Orang jawa memposisikan diri sebagai penumpang. Kendaraan atau hiduplah
yang membawa mereka menuju kehidupan yang lebih baik. Mereka tidak membawa
kendaraan tersebut, melainkan dibawa oleh kendaraan. Orang Jawa memahami hal
tersebut sehingga menerapkan konsep hidup jangan ngoyo. Ngoyo artinya
memaksakan diri untuk melakukan sesuatu.
Ciri khas lain yang tak
bisa di tinggalkan adalah sifat Gotong royong atau saling membantu sesama orang
di lingkungan hidupnya apalagi lebih kentara sifat itu bila kita bertandang ke
pelosok pelosok daerah suku Jawa di mana sikap gotong royong akan selalu
terlihat di dalam setiap sendi kehidupannya baik itu suasana suka maupun duka.
Dan, yang tidak dapat
kita abaikan adalah sikap hidup orang Jawa yang menejunjung tinggi nilai-nilai
positif dalam kehidupan. Dalam interaksi antar personal di masyarakat, mereka
selalu saling menjaga segala kata dan perbuatan untuk tidak menyakiti hati
orang lain.
Mereka begitu
menghargai persahabatan sehingga eksistensi orang lain sangat dijunjung sebagai
sesuatu yang sangat penting. Mereka tidak ingin orang lain atau dirinya
mengalami sakit hati atau terseinggung oleh perkataan dan perbuatan yang
dilakukan sebab bagi orang Jawa, ajining
diri soko lathi, ajining rogo soko busono artinya, harga diri seseorang
dari lidahnya (omongannya), harga badan dari pakaian.
Masyarakat Jawa tidak
suka berpenampilan berlebihan seperti dalam kutipan “melok nanging aja nyolok” (tampak jelas, tetapi jangan terlalu
menyolok). Maksudnya, boleh saja dalam perilaku selalu tampil beda, tetapi
jangan sampai terlampau mencolok.” Dari kutipan tersebut sudah jelas bahwa
hidup orang Jawa dalam kewajaran dan kesederhanaan, hidup tidak bersikap
menonjolkan kelebihan kita baik kelebihan dalam bidang kekayaan , bidang
kepandaian ataupun bidang wewenang dan kekuasaan.
Masyarakat Jawa percaya
akan hal-hal ghaib/mistis, ini melambangkan bahwa tindak tanduk kita harus
selalu di jaga, tidak seenaknya sendiri, karena ada roh halus yang mengawasi
kita tergantikan dengan gaya hidup orang barat.
Menurut Soemardjan dan Soemardi
faktor perubahan sosial dipengaruhi oleh: Lingkungan alam atau fisik, Faktor
teknologi dan Faktor kebudayaan.
Kejawen bagi masyarakat
Jawa asli sudah hampir menjadi seperti agama tersendiri. Ajaran kejawen pada
dasarnya merupakan kompilasi dari seni, budaya, adat ritual, sikap sosial,
serta berbagai pandangan filosofi masyarakat Jawa. Bagi masyarakat Jawa yang
masih memegang teguh ajaran asli kejawen, panutan ajaran ini menjadi nilai
spiritualitas tersendiri. Masyarakat Jawa banyak memiliki kitab kejawen yang
disadur dari kitab-kitab karya para Mpu pada masa kerajaan Jawa.
Ada
beberapa hal lagi yang menjadi karakteristik budaya Jawa seperti Keris yang
merupakan senjata tradisional suku Jawa juga menjadi lambang kedaulatan
beberapa raja-raja di kerajaan luar Jawa. Kemudian disebut Aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La Pa Dha Ja Ya
Nya Ma Ga Ba Tha Nga yang menyimpan makna dan filosofi. Di bidang seni ada
Seni Musik dengan gamelan dan Seni Tari yang merupakan hasil olah cipta, rasa
dan karsa masyarakat Jawa, serta Wayang.
Kebudayaan Suku Jawa merupakan
salah satu yang tertua di Indonesia. Banyak sekali kebudayan suku bangsa lain
di Indonesia yang sedikit banyak berakulturasi dengan budaya masyarakat Jawa.
Baik dalam bahasa, filosofis, maupun kesenian-keseniannya. Hingga saat ini
adat-istiadat suku Jawa ini masih sangat dipegang teguh dan terus ditradisikan,
khususnya dalam lingkungan Keraton daerah istimewa Jogjakarta.
2.3
Wayang
Kulit dan perkembangannya
Asal
usul mengenai wayang sendiri dianggap telah ada semenjak 1500 tahun sebelum
Masehi. Wayang sendiri lahir dari para cendikia nenek moyang suku Jawa yang ada
pada masa silam. Pada masa itu, wayang diperkirakan hanya terbuat dari
rerumputan yang diikat sehingga bentuknya masih sangat sederhana sekali. Wayang
dimainkan dalam ritual pemujaan roh nenek moyang dan juga digunakan dalam
upacara-upacara adat Jawa.
Kesenian
wayang dalam bentuknya yang asli sudah ada bahkan sebelum kebudayaan Hindu
masuk ke Indonesia dan mulai berkembang pada zaman Hindu-Jawa. Pertunjukan
kesenian wayang merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa, yaitu
sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dinamisme pada masa itu.
Menurut
isi yang ada dari Kitab Centini, mengenai asal-usul wayang purwa disebutkan
bahwa kesenian wayang mula-mula sekali diciptakan oleh seorang Raja Jayabaya
dari Kerajaan Mamenang/Kediri. Pada masa sekitar abad ke-10 Raja Jayabaya
berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun
lontar.
Bentuk
gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi
Penataran di Blitar. Cerita Ramayana sangat menarik perhatiannya karena
Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat
dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang
digambarkan untuk pertama kali adalah Bhatara Guru atau Sang Hyang Jagadnata,
yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.
Pada
zaman masa kerajaan Majapahit usaha melukiskan gambaran wayang di atas kertas
disempurnakan dengan ditambah bagian-bagian kecil yang digulung menjadi satu.
Wayang berbentuk gulungan tersebut, bilamana akan hendak dimainkan maka
gulungan harus dibeber. Oleh karena itu, wayang jenis ini biasa disebut wayang
beber. Semenjak terciptanya wayang beber tersebut terlihat pula bahwa lingkup
kesenian wayang tidak semata-mata merupakan kesenian keraton, tetapi malah
meluas ke lingkungan di luar istana walau pun sifatnya masih sangat terbatas.
Sejak
saat itu masyarakat di luar lingkungan keraton sempat pula untuk ikut serta
menikmati keindahannya. Dan pada saat pagelaran dilakukan di dalam istana,
diiringi dengan gamelan laras slendro. Tetapi bilamana pagelaran dilakukan di
luar istana, maka iringannya hanya berupa rebab dan lakonnya pun terbatas pada
lakon Murwakala, yaitu lakon khusus untuk upacara ruwatan.
Pada
zaman pemerintahan Sultan Syah Alam Akbar III atau Sultan Trenggana, perwujudan
wayang kulit semakin semarak. Bentuk-bentuk baku dari wayang mulai diciptakan.
Misalnya bentuk mata, diperkenalkan dua macam bentuk liyepan atau gambaran mata
yang mirip gabah padi atau mirip orang yang sedang mengantuk. Dan mata telengan
yaitu mata wayang yang berbentuk bundar. Penampilan wayang lebih semarak lagi
karena diwarnai dengan cat yang bewarna keemasan.
Untuk
melengkapi jenis-jenis dari wayang yang sudah ada, Sunan Kudus menciptakan
wayang golek yang terbuat dari kayu. Lakon pakemnya sendiri diambil dari wayang
purwa dan diiringi dengan gamelan slendro, tetapi hanya terdiri dari gong,
kenong, ketuk, kendang, kecer, dan rebab.
Sunan
Kalijaga tidak ketinggalan juga, untuk menyemarakkan perkembangan seni
pedalangan pada masa itu dengan menciptakan topeng yang dibuat dari kayu. Pokok
ceritanya diambil dari pakem wayang gedog yang akhirnya disebut dengan topeng
panji. Bentuk mata dari topeng tersebut dibuat mirip dengan wayang purwa. Pada
masa Kerajaan Mataram diperintah oleh Panembahan Senapati atau Sutawijaya,
diadakan perbaikan bentuk wayang purwa dan wayang gedog. Wayang ditatah halus
dan wayang gedog dilengkapi dengan keris.
Pada
tahun 1731 Sultan Amangkurat I menciptakan wayang dalam bentuk lain, yaitu
wayang wong. Wayang wong adalah wayang yang terdiri dari manusia dengan
mempergunakan perangkat atau pakaian yang dibuat mirip dengan pakaian yang ada
pada wayang kulit. Dalam pagelaran dipergunakan pakem yang berpangkal dari
Serat Ramayana dan Serat Mahabharata. Perbedaan wayang wong dengan wayang
topeng adalah: pada waktu main, pelaku dari wayang wong aktif berdialog;
sedangkan pada wayang topeng dialog para pelakunya dilakukan oleh dalang.
Wayang
kini kian semakin dikenal luas. Beberapa jenis wayang juga sudah dikembangkan
untuk memperkaya khasanah dunia perwayangan. Beberapa contoh wayang tersebut misalnya
wayang golek, wayang orang, Wayang Kulit, Wayang Kayu, Wayang Orang, Wayang
Klitik dan Wayang Madya. Wayang Kulit disebut sebagai embrio dari semua jenis
wayang yang ada.
2.4
Kebaikan
dalam Wayang Kulit
Wayang
kulit merupakan salah satu kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang di
masyarakat Jawa. Lebih dari sekadar pertunjukan, wayang kulit dahulu digunakan
sebagai media untuk permenungan menuju roh spiritual para dewa. Konon, “wayang”
berasal dari kata “ma Hyang”, yang berarti menuju spiritualitas sang kuasa.
Tapi, ada juga masyarakat yang mengatakan “wayang” berasal dari tehnik
pertunjukan yang mengandalkan bayangan (bayang/wayang) di layar.
Wayang kulit dimainkan
langsung oleh narator yang disebut dalang. Dalang tidak dapat diperankan oleh
sembarang orang. Selain harus lihai memainkan wayang, sang dalang juga harus
mengetahui berbagai cerita epos pewayangan seperti Mahabrata dan Ramayana.
Dalang dahulu dinilai sebagai profesi yang luhur, karena orang yang menjadi
dalang biasanya adalah orang yang terpandang, berilmu, dan berbudi pekerti yang
santun.
Sambil memainkan
wayang, sang dalang diiringi musik yang bersumber dari alat musik gamelan. Di
sela-sela suara gamelan, dilantunkan syair-syair berbahasa Jawa yang
dinyanyikan oleh para pesinden yang umumnya adalah perempuan. Sebagai kesenian
tradisi yang bernilai magis, sesaji atau sesajen menjadi unsur yang wajib dalam
setiap pertunjukan wayang.
Sesajian berupa ayam
kampung, kopi, nasi tumpeng, dan hasil bumi lainnya, serta tak lupa asap dari
pembakaran dupa selalu ada di setiap pementasan wayang. Tapi, karena banyak
yang menganggap sesajian tersebut merupakan suatu hal yang mubazir, belakangan
ini sesajian dalam pementasan wayang juga diperuntukkan bagi penonton dalam
bentuk makan bersama.
Wayang kulit merupakan
kekayaan nusantara yang lahir dari budaya asli masyarakat Indonesia yang
mencintai kesenian. Setiap bagian dalam pementasan wayang mempunyai simbol dan
makna filosofis yang kuat. Apalagi dari segi isi, cerita pewayangan selalu
mengajarkan budi pekerti yang luhur, saling mencintai dan menghormati, sambil
terkadang diselipkan kritik sosial dan peran lucu lewat adegan goro-goro. Tidak
salah jika UNESCO mengakuinya sebagai warisan kekayaan budaya Indonesia yang
bernilai adiluhung.
Wayang memiliki
unsur-unsur kandungan yang membuatnya menjadi salah satu kesenian yang patut
untuk dilestarikan dan diharuskan untuk tetap ada, seperti berikut :
·
Wayang Memiliki Unsur
Yang Bersifat “Momot Kamot”.
Wayang merupakan media pertunjukan yang dapat memuat segala aspek yang ada dalam kehidupan manusia (momot kamot). Pemikiran manusia, baik hal itu terkait dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum maupun pertahanan keamanan, semua hal tersebut dapat termuat di dalam wayang.
Wayang merupakan media pertunjukan yang dapat memuat segala aspek yang ada dalam kehidupan manusia (momot kamot). Pemikiran manusia, baik hal itu terkait dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum maupun pertahanan keamanan, semua hal tersebut dapat termuat di dalam wayang.
·
Wayang Mengandung Unsur
Tatanan, Tuntunan, dan Tontonan.
Di dalam wayang dikandung tatanan, yaitu merupakan suatu norma atau konvensi yang mengandung etika (filsafat moral). Norma atau konvensi tersebut telah disepakati dan dijadikan pedoman bagi para seniman dalang. Di dalam pertunjukan wayang dikandung aturan main beserta tata cara mendalang dan bagaimana memainkan wayang, secara turun temurun dan mentradisi, lama kelamaan menjadi sesuatu yang disepakati sebagai pedoman (konvensi).
Di dalam wayang dikandung tatanan, yaitu merupakan suatu norma atau konvensi yang mengandung etika (filsafat moral). Norma atau konvensi tersebut telah disepakati dan dijadikan pedoman bagi para seniman dalang. Di dalam pertunjukan wayang dikandung aturan main beserta tata cara mendalang dan bagaimana memainkan wayang, secara turun temurun dan mentradisi, lama kelamaan menjadi sesuatu yang disepakati sebagai pedoman (konvensi).
·
Wayang Merupakan Teater
Total.
Pertunjukan wayang dapat dipandang sebagai sebuah pertunjukan teater yang total, yang mana hal tersebut artinya menyajikan aspek-aspek seni secara total (seni drama, seni musik, seni gerak tari, seni sastra, dan seni rupa). Dialog antar tokoh (antawecana), ekspresi narasi (janturan, pocapan, carita), suluk, kombangan, dhodhogan, kepyakan, adalah unsur-unsur penting dalam hal pendramaan.
Pertunjukan wayang dapat dipandang sebagai sebuah pertunjukan teater yang total, yang mana hal tersebut artinya menyajikan aspek-aspek seni secara total (seni drama, seni musik, seni gerak tari, seni sastra, dan seni rupa). Dialog antar tokoh (antawecana), ekspresi narasi (janturan, pocapan, carita), suluk, kombangan, dhodhogan, kepyakan, adalah unsur-unsur penting dalam hal pendramaan.
Bagi masyarakat Jawa,
cerita pewayangan selalu menggambarkan bentuk kehidupan manusia di dunia, yakni
peperangan terhadap angkara murka dan perjuangan untuk membangun kebaikan. Hal
itu sesuai dengan prinsip filosofis hidup yang selalu dipegang teguh oleh orang
Jawa.
BAB III - PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Masyarakat
Jawa diidentikkan dengan berbagai sikap sopan, segan, menyembunyikan perasaan
alias tidak suka langsung-langsung, menjaga etika berbicara baik secara isi dan
bahasa maupun orang yang diajak berbicara. Budaya ini secara turun-temurun
merupakan ciri khas dari masyarakat Jawa.
Wayang
Kulit merupakan salah budaya Jawa yang sering digunakan sebagai media untuk
menyampaikan pesan-pesan kebaikan yang sangat terkait dengan filosofis hidup masyarakat
Jawa. Karena hal ini merupakan budaya yang sudah turun-temurun untuk
menyampaikan sesuatu atau melakukan sosialisasi terhadap suatu kebijakan
misalnya digunakanlah Pagelaran Wayang Kulit yang sarat dengan makna-makna
kehidupan dan sangat diterima oleh masyarakat Jawa.
3.2
Saran
Budaya
yang terkandung didalamnya ilmu pengetahuan serta kebiasaan yang diperoleh
manusia sebagai anggota masyarakat , seperti halnya Budaya Jawa yang terkandung
didalamnya filosofi-filosofi hidup masyarakat Jawa harus dilestarikan secara
sistematis dan kelembagaan. Dalam meningkatkan partisipasi masyarakat khususnya
masyarakat Jawa yang berpegang teguh pada budaya Jawa dalam konsep kemasyarakatan
dan pembangunan akan lebih mudah disosialisasikan dengan pendekatan budaya
seperti Wayang Kulit.
DAFTAR PUSTAKA
Endraswara, Suwardi. (2006).
Falsafah Hidup Jawa. Yogyakarta: Penerbit Cakrawala.
Marzuki, Dr. M.Ag. Tradisi dan
Budaya Masyarakat Jawa dalam Perspektif Islam. Diperoleh dari Universitas
Negeri Yogyakarta , http://staffnew.uny.ac.id/upload/132001803/lainlain/Dr.+Marzuki,+M.Ag_.+Tradisi+dan+Budaya+Masyarakat+Jawa+dalam+Perspektif+Islam.pdf.
Khumaini, Muhamad Ikbal Koerul.
(2018). Nilai-nilai Aqidah pada Ajaran Kejawen di dalam Persaudaraan Setia hati
Terate di Madiun. Diperoleh dari IAIN Tulungagung , http://repo.iain-tulungagung.ac.id/8043/4/BAB%20I.pdf.
Sulanjari, Bambang. (2012, 12
Februari). Manusia, Budaya dan Filsafat Jawa. Diperoleh dari Universitas Negeri
Yogyakarta, http://ikadbudi.uny.ac.id/informasi/manusia-budaya-dan-filsafat-jawa.
Indonesia Kaya. Wayang Kulit, Kekayaan
Seni Nusantara yang Bernilai Adiluhung. Diperoleh dari https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/wayang-kulit-kekayaan-seni-nusantara-yang-bernilai-adiluhung.
Schoolpouringrights.com . Pembahasan Mengenai Wayang, Seni Budaya Pertunjukan Asli Indonesia. Diperoleh dari http://www.schoolpouringrights.com/history/pembahasan-mengenai-wayang-seni-budaya-pertunjukan-asli-indonesia/.
Schoolpouringrights.com . Pembahasan Mengenai Wayang, Seni Budaya Pertunjukan Asli Indonesia. Diperoleh dari http://www.schoolpouringrights.com/history/pembahasan-mengenai-wayang-seni-budaya-pertunjukan-asli-indonesia/.
No comments:
Post a Comment